Kehidupan Kampus adalah Kehidupan Kita Mendatang

Bagian I : Ancaman di Rumah yang Tidak Memiliki Pagar


UCD Future Campus

Sadarkah kalian bahwa dunia semakin terbuka? Sadarkah kalian bahwa sesungguhnya informasi kepribadian kalian sudah semakin terekspos? Apa jadinya jika kalian tidak menyadari bahwa kehidupan di luar sana sesungguhnya adalah sebuah pertarungan tidak langsung, melainkan perang pikiran? Lalu setelah pikiran anda dikosongkan, anda tidak berdaya, lalu dihajar hingga mau babak belur, apa yang kamu lakukan?


“Are you using your phone, or is your phone using you? Can you put it down? Can you turn it off?” - Denzel Washington, Desiring God

Artikel ini akan membawa kalian terkait kehidupan dan kejadian sesungguhnya di luar kesadaran anda bahwa dunia kampus yang kalian tekuni saat ini, adalah representasi proses jangka panjang kehidupan kita sebagai anak muda di masa mendatang. Kehidupan dimana kesepakatan bahwa perang dunia ketiga tidak akan melulu soal tembak menembak dengan senapan api, tetapi dengan memanipulasi dan mengontrol pikiran yang sesungguhnya tertanam di bawah alam sadar anda. Bagaikan sebuah ancaman rumah anda yang bersepakat dengan rumah lain bahwa kita saling tidak memiliki pagar tetapi memiliki empat anjing yang menjaga setiap sisi rumah.


Tampak sangat jauh sekali bagi kamu yang masih tidur mendengarkan penjelasan dosen kalian di kelas, tetapi akan sangat dekat ketika sesaat sedang menongkrong dengan teman-teman, yang terlintas adalah terkait hal itu menjadi tidak jauh tetapi menjadi kedekatan dalam pikiran anda. Artikel ini akan membagi dan mencoba untuk mengkategorisaasikan lingkup kampus di Semarang bagaimana dan apa yang menjadi dua konteradiktif yang dapat menciptakan paradoks disaat ini, bahkan disaat mendatang.


Menarik bahwa kita akan membahas tentang politik dalam kemasan teknologi . Politik adalah barang yang dihindari pastinya bagi berbagai mahasiswa terutama mahasiswa sekarang karena tidak mau ikut-ikutan terbawa masalah dan cenderung menghindari. Melihat kekritisan mahasiswa terlihat percuma, apabila kamu masih bermain handphone ketika teman kamu sedang menjelaskan. Bukan melarang, tetapi sadarkah bahwa sebenarnya itu merupakan perwujudan perhatian tidak dapat dijaga dengan sikap pikiran kritis anda.


Denzel Washington, aktor film Amerika Serikat saat kuperhatikan bahwa dia merupakan orang yang kritis, selalu mengulik apa yang ada dibalik lawan mainnya yang banyak tidak setuju dengannya saat diskusi bersama, Denzel tetap mematikan handphonenya, dan lalu memperhatikan apa yang dibicarakan dan dikatakan lawan mainnya itu diluar film. Dalam wawancaranya, Denzel Washington mengatakan “Are you using your phone, or is your phone using you? Can you put it down? Can you turn it off?”, Hal ini kekritisan memerlukan perhatian, kekritisan memerlukan konsolidasi pemahaman bahwa perhatian adalah pertama-tama dengan menempatkan diri anda di posisi yang tepat dengan mempertanyakan yang telah diperbuat bahwa politik dan teknologi dalam hal ini pada kemudian hari akan semakin berkaitan.


Aku tidak melihat itu dalam diri sebagian teman-teman mahasiswaku, mereka bermain handphone lalu ketiduran karena melihat posting dan story teman-teman yang di-follownya di Instagram ataupun timeline di TikTok. Tapi, aku tetap akan menganggapnya sebagai hak pribadi dengan mengatakan bahwa ini termasuk dalam pengaruh aplikasi, bahwasanya sudah dalam posisi tidak terkontrol pada kenyataaan penempatan dunia nyata, dan hal itu memberikan pernyataan darurat bahwa bagian ini yang kemudian hari dapat menjadi fatal.

Lalu, politik tergantung pada teman anda bukan? aku kira banyak yang mementingkan profesionalitas dan spesialisasi dalam menyelesaikan permasalahan. Hal ini juga sebenarnya adalah barang lama, dan tidak seharusnya memiliki intensitas yang cukup tinggi dalam pertimbangan politik organisasi dunia kampus seperti ini, politik bukan untuk hanya yang aktif, politik untuk semuanya, sampai yang lari dari politik pun adalah bagian dari politik, sebab saat menghadapinya alam bahwa sadar kalian secara tidak langsung menganggap politik adalah pemerintahan, padahal tidak juga.


Dunia kampus organisasiku juga sebagian besar didominasi oleh mahasiswa ilmu komunikasi di fakultas, dan mereka menganggap bahwa dirinya adalah netral? Tidak semudah itu kawan dalam memilih netral, anda tidak bisa mengatakan bahwa aku adalah dalam posisi netral, aku bukan bagian tipe yang menganggap bahwa seseorang yang mengatakan dirinya netral adalah seorang yang netral. Netral sendiri merupakan kata yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti “not helping or supporting either side in a conflict”.


Tidak membantu sama sekali, tidak membantu bukan berarti sama dengan menghindari. Membantu sendiri tergantung dari sisi pemahaman subjek. Mudahnya, ketika ada satu cicak berhadapan dengan satu manusia. Misalnya anda menjadi nyamuk, anda berpikir bahwa tidak membantu kedua makhluk tersebut adalah netral? Bodoh sekali anda kalau menganggap bahwa anda sebagai seorang nyamuk yang tidak membantu keduanya adalah netral. Tetapi, anda adalah entitas yang goblok bila membantu kedua tersebut, karena apabila manusia menang, anda akan ditepok lalu mati, demikian ketika akan membantu cicak, anda akan dimakan. Pilihan netral memang tidak membantu, tetapi sifat netral dalam hal ini merupakan hal yang sementara, karena kedua predator tersebut akan mengejar anda. Netral tergantung karakteristik konflik yang dihadapi, baik bagi subjek maupun keterangannya. Sehingga, pada saatnya netral akan menjadi bagian dari konflik dan menjadi tidak netral kembali.


Sungguh, saya melihat kakak tingkat memohon untuk bersikap netral dalam pilihan dengan memilih kotak kosong karena indikasi keterkaitan tidaknya netral satu calon ketua adalah sebuah hal yang sangat absurd bagi seorang mahasiswa yang merasa bahwa kampus harus menjadi unggul. Mengingatkan akan generasi bapak ibu saya yang sekarang memegang pemerintahan dimana ditengah perang dagang antara Amerika Serikat melawan Tiongkok dan Indonesia memilih netral adalah absurditas yang sulit dipahami. Amerika Serikat adalah lawan dari Tiongkok, begitupula sebaliknya, tergantung anda lebih memilih menjadi apa, saya memilih menjadi seorang Raden Wijaya di masa awal Majapahit kalau anda membaca sejarah saat tidak tidur.


Bagian ancaman di rumah yang tidak memiliki pagar adalah satu hal yang menjadi konsentrasi bahwa netral adalah bersifat sementara, bukan bersifat tetap. Soekarno memilih menjadi non-blok yang netral lalu kemudian pada akhirnya dekat dengan timur yang komunis adalah salah satu contoh. Aku tidak mau apa yang terjadi dengan Soekarno pada saat itu tertimpa pada generasi aku. Indonesia sekarang tidak ada pagar yang diwujudkan dengan globalisasi tahap medium-rare dan siap diterkam dua rumah yang diapit dengan panda yang terlihat menggemaskan tetapi siap memporakporandakan rumah Indonesia dan elang botak yang terlihat melindungi malah mencakar anda sampai mati lalu menempati rumah kelak.


Catatan bagian pertama di kehidupan kampus saat ini adalah kenali lawan main anda dan ancaman yang memanfaatkan kelemahan. Jangan hanya aktif dengan menghadirkan diri anda saja, burung elang botak selalu bertengger di ranting pohon cottonwood begitupula dengan panda yang selalu aktif dibalik pohon bambu. Netral bukanlah pilihan jangka panjang dan bukanlah pilihan yang aman. Kita tidak mau kehidupan mendatang kita hidup dalam bayangan imbas dari kedua negara ini, sebab kita di kemudian hari dapat menjadi negara yang kuat.